Dalam menulis novel ini, aku selalu teringat pengakuan seorang perempuan kepada outrinya. Dia "Penjahit' Sang Saka Merah Putih dan 'Pengantar ' Proklamasai Negeri ini. " Ketika Ibu menerima lamaran Bapakmu di Bengkulu dahulu, hanya satu saja permintaan Ibu, yaitu agar Ibu jangan di madu. Oleh sebab itu ketika Bapak mengambil istri lagi, Ibu merasa diri Ibu tidak diperlukan lagi, tidak dihargai …