Text
Ngenest 2 Ngetawain Hidup Ala Ernest
Menceritakan kehidupan Ernest pada waktu kecil yang terlahir dari keluarga cina, yang membuat dia sering di diskriminasi dan dikucilkan oleh teman-temannya dalam kehidupan sehari-hari. Dibanding bokap, keluarga nyokap gue tuh lebih original Cinanya. Gaya ngomongnya masih totok banget. Bagi mereka, gak ada istilah “kami” atau “kalian”. Adanya adalah “gua orang” dan “lu orang”. Kesannya insecure banget ya? Gue juga tau kalo kita semua ini orang, bukan ubur-ubur. (Diambil dari bab “Woy, Cina!”)
Lalu bermula ketika Ernest remaja masuk sekolah dasar. Karena fisiknya yang terlihat berbeda dari teman-temannya, dengan mata sipit dan kulit putih, Ernest sering dirundung teman-temannya. Hari-hari Ernest lalui dengan tindakan diskriminasi yang di dapat sampai masa sekolahnya habis dan dia lulus dari sekolah SMA. Kemudian, dia berpikir untuk kuliah di (UNPAD) Universitas Padjajaran Bandung yang mungkin akan mengubah hidupnya. Untuk menghilangkan diskriminasi tersebut. Di Bandung Ernest mencoba berbaur dengan teman – teman pribuminya meski di tentang oleh sahabat dekatnya sendiri yaitu Patrick. Dengan berbagai usaha yang telah dilakukannya ternyata semua sia-sia, sehingga Ernest berpikiran dengan cara terbaiknya adalah mencari seorang gadis pribumi dan menikahinya.
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Kritik Karya Sastra Novel : Ngenest, Ngetawain Hidup ala Ernest", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/septanusarjun/5fce7ea3d541df68df07a4b2/kritik-karya-sastra-novel-ngenest-ngetawain-hidup-ala-ernest
Kreator: Septanus Arjun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com
Tidak tersedia versi lain