Text
Bibir tersenyum hati menangis : seberapa munafikkah aku ini?
Sungguh, celakalah orang-orang yang kalah dalam perang terdahsyat melawan diri sendiri. Sebab, mereka akan terperosok ke dalam ketidakpastian-ketidakpastian diri. Ketidakpastian diri ini menyebabkan mereka tidak berdaya. Sehingga, lahirlah sikap dan tingkah laku berupa kepasrahan yang tidak pada tempatnya, pengecut, nekat, munafik, dan lain sebagainya.
Nah, buku yang ada di tangan Anda ini mengurai secara terperinci soal gelaja umum kejiwaan atau nurani yang terbiasa menipu diri sendiri itu; bibir tersenyum, tetapi hati menjerit karena duka dan derita. Kita bersikap ramah kepada seseorang, sedangkan hati kuta susah sekali rahmah kepadanya. Kita menjadi terbiasa melakukan sesuatu yang sebenarnya hati kita menolaknya. Jiwa kita mejadi terbelah, munafik, dan ambivalen.
Itulah femomena pilhan hidup salah yang banyak terjadi di sekitar kita saat gempuran persolana hidup begitu tubi.
Lalu, bagaimana cara mengatasi split personality tersebut?
Temukan jawaban hanya di dalam buku ini. Buku ini dilengkapi pula dengan seabrek terapi psikologis berbasis nalar Islam kontemporer. Di antaranya adalah cara ampuh menyembuhkan jiwa yang munafik. Simak pula uraian tentang pilihan hidup yang semestinya kita tentukan tanpa keterpaksaan da kepura-puraan.
Selamat membaca!
Tidak tersedia versi lain