Text
Ngangger Tani
Budaya ngenger yang telah terkikis dan banyak ditinggalkan menjadi renungan kritis sebagai bangsa yang berbudaya. Nilai-nilai luhur dan mulia dari sebuah proses pengabdian dalam negejar derajat kemuliaan semakin diabaikan hanya karena penderitaan dan proses yang melelahkan. Masyarakat kita, generasi kita lebih memilih instan ketimbang laku dan lakon layaknya ksatria yang melelahkan. Hingga amat jarang pemuda yang menolak tunduk dan takluk pada keadaan. Sungguh ironi yang mendalam untuk sebuah perjuangan yang telah diwariskan serta cita-cita yang telah disematkan.
Tani dan kedalaman hidup masyarakatnya semakin tergerus arus zaman yang miskin keberpihakan. Budayanya terpinggirkan dan para tua masih dengan lelah rela berjuang dan berkorban demi melihat anak cucu bisa jajan dan sekolah tinggi untuk meraih pengetahuan dan impian. Disinilah harusnya renungan itu menyadarkan jiwa muda, jiwa para pengelana, jiwa para pengembara, jiwa para pencari makna.
Tidak tersedia versi lain