Text
Satria Pinilih
Bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin baru, presiden baru. Dia haruslah mendapat mandat dari rakyat melalui pemilihan umum. Selain itu, yang lebih penting, dia harus menerima wangsit keprabon. Sebab, dalam paham Jawa, menjadi presiden, menjadi satria pinilih, adalah menjadi pemimpin bangsa yang sekaligus menjadi panutan rakyat.
Pertanyaannya, adalah panutan untuk memilih pemimpin yang adalah satria pinilih? Ini pertanyaan penting mengingat rakyat tidak mau memilih pemimpin yang keliru. Dibutuhkan pertimbangan-pertimbangan matang untuk menemukan pemimpin sempurna. Pada masyarakat Jawa, pertimbangan itu dikenal sebagai delapan perwatakan (hastha brata) alam yang menjadi pedoman perilaku raja besar supaya dia adil, berwibawa, arif, dan bijaksana. Menurut ilu ini, seorang satria pinilih harus berwatak bumi, air, angin, lautan, rembulan, matahari, api, dan bintang.
Buku ini ditulis tidak untuk menebak satria pinilih. Juga tidak untuk membangkitkan Soeharto dari tidur panjangnya di Astana Giribangun, Karanganyar. Justru, ada sesuatu yang ditinggalkan Soeharto yang menarik dijadikan latar belakang munculnya satria pinilih. Sebab, kepemimpinan Soeharto sesungguhnya tidaklah semua buruk. Ada yang patut dikagumi namun ada pula yang boleh dicaci, ketika bangsa kita dilanda berbagai peristiwa tak menentu, akibat ulahnya sendiri. Benarkah kita hanya diam membisu? Barangkali, kita butuh seseorang yang bisa memberi kedamaian, petunjuk, pengayoman, kepemimpinan yang damai, dan jaminan kuat. Untuk itulah, satria pinilih harus diciptakan.
Tidak tersedia versi lain